Thursday, December 29, 2011

KETERKAITAN HUBUNGAN ANTARA PERTUMBUHAN EKONOMI, INFLASI, DAN PENGANGGURAN DI INDONESIA

Masalah ekonomi yang paling sering menjadi topik bahasan oleh ahli ekonomi maupun para dosen pengampu mata kuliah ekonomi adalah masalah tentang pengangguran dan inflasi. Sedangkan dalam indikator ekonomi makro ada tiga hal utama yang paling sering menjadi pokok permasalahan, yaitu masalah pertumbuhan ekonomi, inflasi, dan yang terakhir adalah masalah pengangguran. Ketiga masalah tersebut mempunyai keterkaitan hubungan yang tidak dapat dipisahkan, sehingga cukup menarik untuk menjadi bahan pembahasan. Berikut ini adalah uraian mengenai ketiga masalah tersebut.
A.    Pertumbuhan Ekonomi
Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu indikator yang amat penting dalam menilai kinerja perekonomian suatu negara, terutama untuk melakukan analisis tentang hasil pembangunan ekonomi yang telah dilaksanakan suatu negara. Untuk mengukur keberhasilan perekonomian suatu negara salah satunya dapat dilihat dari angka pertumbuhan ekonomi negara tersebut. Pertumbuhan ekonomi atau yang lebih dikenal sebagai economic growth, dapat diukur dari kenaikan besarnya pendapatan nasional atau produksi nasional pada periode tertentu. Oleh sebab itu, nilai dari pendapatan nasional atau national income sebuah negara merupakan gambaran dari aktivitas ekonomi negara tersebut pada periode tertentu. Ekonomi dapat dikatakan mengalami pertumbuhan apabila produksi barang dan jasa di negara tersebut meningkat dari tahun ke tahun. Pertumbuhan ekonomi suatu negara yang terus menerus menunjukkan peningkatan menggambarkan perekonomian negara tersebut berkembang dengan baik.

B.     Inflasi
Inflasi adalah suatu peristiwa naiknya harga-harga secara umum dan terus menerus selama dua belas bulan atau satu tahun. Dalam hal ini, kenaikan harga karena menjelang perayaan hari raya atau hari besar tidak disebut sebagai inflasi. Hal itu disebabkan oleh kenaikan harga-harga tersebut tidak mempunyai pengaruh lanjutan atau hanya bersifat sementara dan terjadi sekali saja. Lawan dari inflasi adalah deflasi, deflasi adalah peristiwa penurunan tingkat harga secara umum. Namun peristiwa deflasi jarang sekali terjadi pada suatu negara. Berikut ini ada beberapa macam inflasi, yaitu:
1.      Penggolongan pertama didasarkan atas parah tidaknya inflasi:
·         Inflasi ringan (kurang dari 10 % setahun)
·         Inflasi sedang (antara 10 % sampai dengan 30 % setahun)
·         Inflasi berat (antara 30 % sampai dengan 100 % setahun)
·         Hyper inflasi (lebih dari 100 % setahun)
Penentuan parah tidaknya inflasi sebenarnya tidak bisa hanya dilihat dari sudut laju inflasi saja tanpa mempertimbangkan siapa yang menanggung beban atau yang memperoleh keuntungan dari inflasi tersebut. Contohnya adalah di sebuah negara terdapat kenaikan inflasi sebesar 20 %, namun kenaikan inflasi tersebut berasal dari kenaikan harga-harga barang dan jasa yang dibeli oleh golongan menengah ke bawah atau golongan yang berpenghasilan rendah, maka inflasi tersebut dapat dikatakan sebagai inflasi yang parah.
2.      Penggolongan kedua adalah atas dasar sebab awal inflasi:
·         Excess Demand Inflation
Inflasi tarikan permintaan atau disebut juga sebagai demand-pull inflation adalah inflasi yang timbul karena permintaan masyarakat terhadap suatu barang atau jasa terlalu banyak. Atau dapat dikatakan bahwa permintaan total lebih cepat daripada output yang ditawarkan. Karena jumlah barang dan jasa yang diminta lebih besar daripada barang dan jasa yang ditawarkan maka terjadilah kenaikan harga.
·         Cost Push Inflation
Cost push inflation atau inflasi desakan biaya atau disebut juga inflasi dari sisi penawaran (supply side inflation) adalah inflasi yang timbul karena kenaikan ongkos produksi atau karena adanya golongan masyarakat yang mempunyai kekuatan untuk memaksakan kenaikan upah dan bunga. Dapat dikatakan juga bahwa penyebab terjadinya inflasi jenis ini adalah kenaikan biaya produksi yang pesat dibandingkan dengan tingkat produktivitas dan efisiensi, sehingga perusahaan mengurangi supply barang dan jasa. Dan tentu saja peningkatan biaya produksi membuat perusahaan menaikan harga barang dan jasa, dan perusahaan juga menanggung risiko atas menurunnya permintaan barang dan jasa oleh konsumen.
·         Bottleneck Inflation
Bottleneck inflation adalah inflasi yang diakibatkan oleh berubahnya struktur permintaan total yang lebih cepat daripada mobilitas sumber-sumber.
3.      Penggolongan ketiga berdasarkan asal inflasi:
·         Inflasi yang berasal dari dalam negeri (Domestic Inflation)
Timbul misalnya karena defisit anggaran belanja yang dibiayai dengan pencetakan uang baru, gagal panen, dan lain sebagainya.
·         Inflasi yang berasal dari luar negeri (Imported Inflation)
Inflasi yang timbul karena kenaikan harga-harga di luar negeri atau di negara-negara langganan berdagang.
            Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi inflasi, yaitu:
1.)    Meningkatnya kegiatan ekonomi
2.)    Kebijakan pemerintah di bidang harga dan pendapatan
3.)    Melemahnya nilai tukar rupiah
4.)    Tingginya ekspektasi inflasi masyarakat

C.    Pengangguran
Pengangguran adalah orang yang masuk dalam angkatan kerja (15 sampai 64 tahun) yang sedang mencari pekerjaan dan belum mendapatkannya. Pengangguran disebabkan karena jumlah angkatan kerja atau para pencari kerja tidak sebanding dengan jumlah lapangan pekerjaan yang ada yang mampu menyerapnya. Indikator yang biasa digunakan untuk mengukur pengangguran adalah Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT). TPT umumnya didefinisikan sebagai proporsi angkatan kerja yang tidak bekerja dan mencari pekerjaan. Ukuran ini dapat digunakan untuk mengindikasikan seberapa besar penawaran kerja yang tidak terserap di dalam sebuah negara. Secara umum TPT perempuan selalu lebih tinggi daripada TPT laki-laki. Berikut ini ada beberapa macam pengangguran, yaitu:
1.      Macam-macam pengangguran dilihat dari jam kerja:
a.  Penganggutan Terbuka (Open Unemployment): Pengangguran terbuka adalah tenaga kerja yang sungguh-sungguh tidak mempunyai pekerjaan.
b.     Setengah Menganggur (Under Unemployment): Setengah menganggur adalah tenaga kerja yang tidak bekerja secara optimal karena ketiadaan lapangan kerja atau pekerjaan, atau pekerja yang bekerja kurang dari 35 jam seminggu.
c.    Pengangguran Terselubung (Disguised Unemployment): Pengangguran terselubung adalah tenaga kerja yang tidak bekerja secara optimal karena tidak memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan bakat dan kemampuannya.
2.      Pengangguran menurut Keynes:
a.   Pengangguran yang disengaja (Voluntary Unemployment): Pengangguran yang disengaja adalah pengangguran terjadi karena ada pekerjaan yang ditawarkan tetapi orang yang menganggur tidak mau menerima pekerjaan tersebut dengan upah yang berlaku.
b.     Pengangguran yang tidak disengaja (Involuntary Unemployment): Pengangguran yang tidak disengaja adalah pengangguran yang terjadi apabila seseorang bersedia menerima pekerjaan dengan upah yang berlaku tetapi pekerjaannya tidak ada.
3.      Macam-macam bentuk pengangguran:
a.       Pengangguran Struktural
Terjadi apabila terdapat ketidaksesuaian antara jenis pekerjaan yang diminta dan jenis pekerjaan yang ditawarkan. Penyebab terjadinya pengangguran ini adalah tidak cocoknya keterampilan atau kemampuan yang dimiliki tenaga kerja dengan yang diminta oleh lapangan kerja.
b.      Pengangguran Siklikal (Pengangguran Konjungtural)
Terjadi apabila permintaan total akan tenaga kerja terganggu sehingga jumlah permintaan jauh di bawah penawaran tenaga kerja. Penyebab pengangguran ini adalah merosotnya perekonomian, misalnya dalam masa resesi (kondisi menurunnya kegiatan ekonomi secara umum).
c.       Pengangguran Friksional
Terjadi karena perpindahan penduduk dari suatu daerah ke daerah lain, atau dari suatu pekerjaan ke pekerjaan lain. Penyebabnya ialah adanya perubahan siklus kehidupan manusia.


PEMBAHASAN

PERTUMBUHAN EKONOMI DI INDONESIA
Seperti yang sudah dikemukakan sebelumnya bahwa pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu indikator yang amat penting dalam menilai kinerja perekonomian suatu negara, terutama untuk melakukan analisis tentang hasil pembangunan ekonomi yang telah dilaksanakan suatu negara. Karena itulah Indonesia sejak awal kemerdekaannya telah menyusun perencanaan pembangunan ekonomi yang bersifat komprehensif dan parsial. Pada masa pemerintahan presiden pertama kita, yaitu Presiden Soekarno, telah dibuat perencanaan pembangunan ekonomi Indonesia yang dikenal dengan sebutan pembangunan rakyat semesta atau PERMESTA. Selain itu, pada masa pemerintahan presiden kedua, yaitu Presiden Soeharto, dibuat juga perencanaan pembangunan ekonomi Indonesia yang dikenal dengan Rencana Pembangunan Lima Tahun (REPELITA), mulai dari REPELITA I hingga REPELITA VI. Dalam pelaksanaan REPELITA tersebut, perencanaan pembangunan ekonomi Indonesia selalu mengacu pada konsep TRILOGI PEMBANGUNAN, yaitu meliputi:
1.      Stabilitas ekonomi nasional
2.      Pertumbuhan ekonomi
3.      Pemerataan hasil-hasil pembangunan
Perkembangan tingkat pertumbuhan ekonomi di Indonesia selama Pembangunan Jangka Panjang Tahap I, yaitu dari tahun 1969 sampai dengan 1994, cukup tinggi yaitu rata-rata 6,8 persen per tahun. Selain itu terdapat peningkatan pendapatan per kapita masyarakat dari sebesar 70 US$ pada tahun 1970 menjadi 950 US$ tahun 1990 dan meningkat lagi menjadi 1080 US$ pada tahun 1996 (World Bank 2005). Ini berarti selama Pembangunan Jangka Panjang Pertama pendapatan per kapita Indonesia telah meningkat sekitar 15 kali lipat dibandingkan dengan pendapatan per kapita pada tahun 1970. Dilihat dari pendapatan per kapita ini, maka pembangunan yang telah dilaksanakan di Indonesia selama PJP I dapat dikatakan berhasil dan sukses. Itu semua merupakan dampak dari semakin rendahnya tingkat inflasi yang terjadi. Pada awal pembangunan PJP I atau tepatnya pada tahun 1965, tingkat inflasi di Indonesia mencapai 650 persen. Dengan adanya kebijakan-kebijakan yang diambil pemerintah Indonesia dari tahun ke tahun tingkat inflasi dapat ditekan hingga di bawah 5 persen. Keberhasilan menekan tingkat inflasi berdampak pada pertumbuhan ekonomi dan pendapatan per kapita rakyat Indonesia yang meningkat cukup signifikan.
Berdasarkan hasil laporan perekonomian Indonesia yang diterbitkan Bank Indonesia, kemudian disampaikan kepada DPR dan Pemerintah pada setiap tahun sebagai pemenuhan amanat yang ditetapkan dalam UU No. 3 Tahun 2004, dalam evaluasinya tentang perkembangan ekonomi dan keuangan Indonesia, bahwa pertumbuhan ekonomi dari tahun 2005 hingga tahun 2008 terus mengalami peningkatan, meskipun belum mencapai puncak kepesatan. Namun, pertumbuhan ekonomi yang berlandaskan GDP (Gross Domestic Product) ini dapat dinilai cukup signifikan dan menggembungkan pundi-pundi pendapatan Indonesia.
Sedangkan pada tahun ini menurut Badan Pusat Statistik (BPS) Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia triwulan III-2011 meningkat sebesar 3,5 persen terhadap triwulan II-2011. Peningkatan terjadi hampir pada semua sektor ekonomi dengan pertumbuhan tertinggi di Sektor Pertanian 5,0 persen dan terendah di Sektor Listrik, Gas, dan Air Bersih 1,3 persen. Pada triwulan III-2011, perekonomian Indonesia tumbuh sebesar 6,5 persen. Dengan meningkatnya perekonomian negara maka kemakmuran rakyat dapat dikatakan cukup membaik. 
  
MASALAH INFLASI DAN PENGANGGURAN
Ada empat faktor yang menentukan tingkat inflasi. Pertama, uang yang beredar baik itu uang tunai maupun giro. Kedua, perbandingan antara sektor moneter dan fisik barang yang tersedia. Ketiga, tingkat suku bunga bank juga ikut mempengaruhi laju inflasi. Suku bunga di Indonesia termasuk lebih tinggi dibandingkan negara di kawasan Asia. Keempat, tingkat inflasi dipengaruhi oleh faktor fisik prasarana. Melonjaknya inflasi karena dipicu oleh kebijakan pemerintah menarik subsidi sehingga harga listrik dan BBM meningkat. Kenaikan BBM tersebut cukup memberatkan masyarakat menengah ke bawah karena dapat menimbulkan multiplier effect, yaitu mendorong kenaikan harga jenis barang lainnya yang dalam proses produksi maupun distribusinya menggunakan BBM.
Inflasi dapat mengakibatkan perekonomian tidak berkembang. Berikut beberapa dampak yang ditimbulkan oleh adanya inflasi yang masih berhubungan dengan pertumbuhan ekonomi:
1.       Mendorong Penanaman Modal Spekulatif
Inflasi mengakibatkan para pemilik modal cenderung melakukan spekulatif. Hal ini dilakukan dengan carai membeli rumah, tanah dan emas. Cara ini dirasa oleh mereka lebih menguntungkan daripada melakukan investasi yang produktif.
2.       Menyebabkan Tingkat Bunga Meningkat dan akan Mengurangi Investasi
Untuk menghindari kemerosotan nilai uang atau modal yang mereka pinjamkan, lembaga keuangan akan menaikkan tingkat suku bunga pinjaman. Apabila tingkat inflasi tinggi, maka tingkat suku bunga juga akan tinggi. Tingginya suku bunga akan mengurangi kegairahan penanaman modal untuk mengembangkan usaha-usaha produktif.
3.       Menimbulkan Ketidakpastian Keadaan Ekonomi di Masa Depan.
Apabila gagal mengendalikan inflasi, maka akan berdampak terhadap ketidakpastian ekonomi. Selanjutnya arah perkembangan ekonomi sulit untuk diramal. Keadaan semacam ini akan mengurangi kegairahan pengusaha untuk mengembangkan kegiatan ekonomi.
4.       Menimbulkan Masalah Neraca Pembayaran
Inflasi akan menyebabkan harga barang-barang impor lebih murah daripada harga barang yang dihasilkan di dalam negeri. Hal ini akan mengakibatkan impor berkembang lebih cepat daripada ekspor. Selain itu, arus modal ke luar negeri akan lebih banyak dibanding yang masuk ke dalam negeri. Keadaan ini akan mengakibatkan terjadinya defisit neraca pembayaran dan kemerosotan nilai mata uang dalam negeri.
Sedangkan laju inflasi di Indonesia pada bulan Januari 2011 dan bulan November 2011 adalah sebagai berikut:
ü  Pada bulan Januari 2011 terjadi inflasi sebesar 0,89 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 126,29. Dari 66 kota, tercatat 62 kota mengalami inflasi dan 4 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Padang (3,70 persen) dan terendah di Manokwari (0,07 persen). Sedangkan deflasi tertinggi terjadi di Sorong (1,07 persen) dan terendah di Ternate (0,32 persen). Inflasi Januari 2011 lebih tinggi dibanding kondisi Januari 2010 yang mempunyai tingkat inflasi sebesar 0,84 persen.
ü   Pada bulan November 2011 terjadi inflasi sebesar 0,34 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 129,18. Dari 66 kota, tercatat 50 kota mengalami inflasi dan 16 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Mataram 1,25 persen dengan IHK 138,83 dan terendah terjadi di Palembang 0,02 persen dengan IHK 129,46. Sedangkan deflasi tertinggi terjadi di Pangkal Pinang 1,19 persen dengan IHK 139,13 dan terendah terjadi di Samarinda 0,03 persen dengan IHK 137,43.
Masalah yang akan dibahas selanjutnya adalah masalah pengangguran. Masalah pengangguran jika dibiarkan berlarut-larut pasti akan menimbulkan berbagai persoalan. Salah satunya adalah krisis sosial. Krisis sosial ditandai dengan meningkatnya angka kriminalitas, tingginya angka kenakalan remaja, melonjaknya jumlah anak jalanan maupun preman, dan meningkatnya kekerasan sosial yang bermunculan di masyarakat. Salah satu faktor yang mengakibatkan tingginya angka penganggura di Indonesia adalah terlalu banyak tenaga kerja yang diarahkan ke sektor formal, sehingga ketika mereka kehilangan pekerjaan di sektor formal, mereka tidak bisa menciptakan lapangan pekerjaan sendiri di sektor informal.
Berikut adalah dampak pengangguran yang terjadi di Indonesia:
1.)    Dampak Pengangguran Terhadap Pembangunan Nasional
a.       Pendapatan Nasional dan Pendapatan per Kapita
Upah merupakan salah satu komponen dalam penghitungan pendapatan nasional. Apabila tingkat pengangguran semakin tinggi, maka nilai komponen upah akan semakin kecil. Dengan demikian, nilai pendapatan nasional pun akan semakin kecil. Pendapatan per kapita adalah pendapatan nasional dibagi jumlah penduduk. Oleh karna itu, nilai pendapatan nasional yang semakin kecil akibat pengangguran akan menurunkan nilai pendapatan per kapita.
b.      Penerimaan Negara
Salah satu sumber penerimaan negara adalah pajak, khususnya pajak penghasilan. Pajak penghasilan diwajibkan bagi orang-orang yang memiliki pekerjaan. Apabila tingkat pengangguran meningkat, maka jumlah orang yang membayar pajak penghasilan berkurang. Akibatnya penerimaan negara pun berkurang.
c.       Beban Psikologis
Semakin lama seseorang menganggur, semakin besar beban psikologis yang harus ditanggung. Secara psikologis, orang yang menganggur mempunyai perasaan tertekan, sehingga berpengaruh terhadap berbagai perilakunya dalam kehidupan sehari-hari. Dampak psikologis ini mempunyai efek domino di mana secara sosial, orang menganggur akan merasa minder karena status sosial yang tidak atau belum jelas.
d.      Biaya Sosial
Dengan semakin besarnya jumlah penganggur, semakin besar pula biaya sosial yang harus dikeluarkan. Biaya sosial itu mencakup biaya atas peningkatan tugas-tugas medis, biaya keamanan, dan biaya proses peradilan sebagai akibat meningkatnya tindak kejahatan.
2.)    Dampak Pengangguran Terhadap Ekonomi Masyarakat
a.       Pendapatan per Kapita
Orang yang menganggur berarti tidak memiliki penghasilan sehingga hidupnya akan membebani orang lain yang bekerja. Dampaknya adalah terjadinya penurunan pendapatan per-kapita. Dengan kata lain, bila tingkat pengangguran tinggi maka pendapatan per kapita akan menurun dan sebaliknya bila tingkat pengangguran rendah pendapatan per kapita akan meningkat, dengan catatan pendapatan mereka yang masih bekerja tetap.
b.      Pendapatan Negara
Orang yang bekerja mendapatkan balas jasa berupa upah/gaji, upah/gaji tersebut sebelum sampai di tangan penerima dipotong pajak penghasilan terlebih dahulu. Pajak ini merupakan salah satu sumber pendapatan negara sehingga bila tidak banyak orang yang bekerja maka pendapatan negara dari pemasukan pajak penghasilan cenderung berkurang.
c.       Beban Psikologis
Semakin lama seseorang menganggur semakin besar beban psikologis yang ditanggungnya. Orang yang memiliki pekerjaan berarti ia memiliki status sosial di tengah-tengah masyarakat. Seseorang yang tidak memiliki pekerjaan dalam jangka waktu lama akan merasa rendah diri (minder) karena statusnya yang tidak jelas.
d.      Munculnya Biaya Sosial
Tingginya tingkat pengangguran akan menimbulkan pengeluaran berupa biaya-biaya sosial seperti biaya pengadaan penyuluhan, biaya pelatihan, dan biaya keamanan sebagai akibat kecenderungan meningkatnya tindak kriminalitas.
Untuk mengatasi masalah di atas, dapat dilakukan dengan cara:
·         Mendorong majunya pendidikan
·   Meningkatkan latihan kerja untuk memenuhi kebutuhan ketrampilan seperti tuntutan industri modern
·         Meningkatkan dan mendorong kewiraswastaan
·         Mendorong terbukanya kesempatan usaha-usaha informal
·         Meningkatkan usaha transmigasi
·         Meningkatkan pembangunan dengan sistem padat karya
·         Mengintensifkan program keluarga berencana
·         Membuka kesempatan bekerja ke luar negeri
Berikut ini disajikan data pengangguran di Indonesia pada bulan Agustus tahun 2010 dan bulan Agustus tahun 2011:
ü  Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada Agustus 2010 mencapai 7,14 persen, turun dibanding TPT Februari 2010 sebesar 7,41 persen dan TPT Agustus 2009 sebesar 7,87 persen.
ü  Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Indonesia pada Agustus 2011 mencapai 6,56 persen, mengalami penurunan dibanding TPT Februari 2011 sebesar 6,80 persen dan TPT Agustus 2010 sebesar 7,14 persen.
Kali ini penulis akan membahas tentang keterkaitan hubungan antara inflasi dan pengangguran. Ada sebuah hubungan terbalik diantara kedua masalah tersebut, yaitu apabila tingkat inflasi tinggi, maka tingkat pengangguran rendah, sedangkan apabila tingkat inflasi rendah, maka tingkat pengangguran menjadi tinggi. Inflasi dan pengangguran merupakan dua keadaan yang sering dialami bersama-sama dalam suatu periode dan keduanya seringkali tidak dapat didamaikan. Mempertahankan pengerjaan penuh atau full employment dan mendorong pertumbuhan ekonomi menghendaki kebijaksanaan yang sampai tingkat tertentu menimbulkan inflasi. Hal ini disebabkan karena:
Ø  pembangunan memerlukan investasi
Ø  pengeluaran pemerintah untuk investasi menimbulkan permintaan barang dan jasa naik
Ø  kenaikan permintaaan menimbulkan harga-harga naik
Yang dapat sedikit memperlunak inflasi adalah pengangguran. Jadi, untuk meringankan inflasi harus ada sedikit pengangguran, sehingga hal ini menimbulkan suatu trade off. Pengangguran dapat dikurangi hingga mendekati pengerjaan penuh, tetapi inflasi menjadi tinggi. Sebaliknya, inflasi dapat ditekan serendah-rendahnya tetapi pengangguran menjadi tinggi. Peristiwa ini seringkali terjadi di negara-negara pasar bebas yang sudah maju. A. W. Philips, ekonom asal Inggris menggambarkan peristiwa tersebut dalam kurva yang disebut sebagai kurva Philips.

HUBUNGAN INFLASI DAN PERTUMBUHAN EKONOMI TERHADAP PENGANGGURAN DI INDONESIA

Mengacu pada kurva Philips, dapat digambarkan bagaimana hubungan tingkat inflasi dan tingkat pengangguran di Indonesia dengan menggunakan data tingkat inflasi dan tingkat pengangguran dari tahun 1989 sampai dengan tahun 2005. A. W. Philips menggambarkan bagaimana sebaran hubungan antara inflasi dengan tingkat pengangguran didasarkan pada asumsi bahwa inflasi merupakan akibat dari adanya kenaikan permintaan agregat. Dengan naiknya permintaan agregat, maka sesuai dengan teori permintaan, jika permintaan naik maka harga akan naik. Dengan tingginya harga atau dapat dikatakan sebagai inflasi, maka untuk memenuhi permintaan tersebut produsen meningkatkan kapasitas produksinya dengan menambah tenaga kerja sehingga pengangguran berkurang.
Menggunakan pendekatan A.W. Philips dengan menghubungkan antara pengangguran dengan tingkat inflasi untuk kasus Indonesia ternyata kurang tepat. Karena secara statistik tidak ada pengaruh yang signifikan antara inflasi dengan tingkat pengangguran di Indonesia. Di Indonesia, adanya kenaikan harga-harga atau inflasi pada umumnya disebabkan oleh kenaikan biaya produksi, misalnya karena kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), bukan karena kenaikan permintaan. Dengan alasan inilah maka tidaklah tepat bila perubahan tingkat pengangguran di Indonesia dihubungkan dengan inflasi, tetapi lebih tepat apabila perubahan tingkat pengangguran dihubungkan dengan tingkat pertumbuhan ekonomi.


Sumber:
o  Badan Pusat Statistik. 2011. Laporan Bulanan Data Sosial Ekonomi Edisi 9. Jakarta: BPS.
o  Badan Pusat Statistik. 2011. Laporan Bulanan Data Sosial Ekonomi Edisi 19. Jakarta: BPS.
o  Nota Keuangan dan RAPBN RI 1994/1995
o  Sutarno, dkk. 2009. Theory and Application of Economics 2. Solo: Tiga Serangkai.
o World Development Report. 2007. Pembangunan dan Generasi Mendatang. Jakarta: Salemba Empat.
o   www.google.com

4 comments:

  1. Nice article, informative, debatable pula...nulis sendiri kak? jangan2 copas? he2.. maaf bercanda. Salam kenal ya. :D
    ridhoanwar.co.cc
    eh, judulnya "My Secret Diary" tapi orang lain bisa baca. He2...

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe... aku ngambil dari berberapa artikel, aku baca2, aku kumpulin, terus aku ambil kesimpulannya..

      sayang kalo bikin blog cuma buat dinikmatin sendiri :D haha..

      salam kenal juga Kak Ridho :)

      Delete
  2. Nice article! :)
    Aku dapat tugas tentang hubungan pertumbuhan ekonomi, inflasi, dan pengangguran dari dosen, so this is so helpful..THANK YOU..
    Btw, izin copas yaa, hahaha
    Boleh yaa? Boleh yaa? Please? (Padahal sebelum nulis ini, udah ngocopas duluan, hehehe. Peace :)

    ReplyDelete